Makna Dari Guru Digugu Lan Ditiru Yang Perlu Diketahui

makna dari guru digugu lan ditiruMakna Dari Guru Digugu Lan Ditiru Yang Perlu Diketahui, “Semakin luas ilmu seorang guru, semakin tinggi toleransinya (legowo)”, Kata K. H. Abdurrahman Wahid. Ya, legowonya guru diartikan sebagai keikhlasan guru dalam melakoni pekerjaan dan tanggung jawabnya, penuh keikhlasan dalam dukanya dan penuh syukur dalam sukanya. Menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Apalagi di era sekarang ini, bagi para guru wiyata, honorer, dan GTT (Guru Tidak Tetap) menjadi pergulatan setiap hari dalam batinnya, di antara suka dan dukanya.

Menjadi guru, tidak sekedar menyampaikan materi ke siswa lalu selesai sudah tugas guru. Selain melaksanakan tri dharma pendidikan dan “motto pendidikan” dari Ki Hajar Dewantoro, masih ada tanggung jawab guru yang lainnya. Ada setumpuk berkas administrasi pembelajaran, setiap malam menyiapkan materi dan perangkat pembelajaran, dan masih banyak lagi. Koreksian yang setumpuk, terkadang pun masih di bawa pulang untul dilembur. Dalam menyusun administrasi pembelajaran yang sangat banyak itu, guru tidak hanya membuat persiapan pembelajaran di awal, tetapi lengkap untuk keseluruhan proses pembelajaran mulai dari awal, inti, akhir, soal-soal, bahkan bentuk penilaian untuk setiap Kompetensi Dasar.

Tidak berhenti sampai disitu, guru pun masih harus mempelajari materi agar siap di depan siswa, segala soal untuk penilaian yang terkadang tidak cukup diselesaikan di sekolah dan harus di bawa pulang, masih harus disusul untuk proses pembelajaran selanjutnya. Terkadang pun guru masih harus dihadapkan dengan berbagai permasalahan keunikan individu siswa. Hem,, Sangat berwarna bukan?

Di sisi lain, bagi guru yang non PNS dan non GTY pergulatan lain dalam batinnya pun masih ada, dimana honor yang diterima jumlahnya jauh perbandingannya dari tugas dan tanggung jawab yang dilakoni. Seperti pekerja pabrik misalnya, pekerjaan hanya diselesaikan di pabrik dan di rumah sudah tidak mengerjakan tugasnya lagi. Tanggung jawab yang diselesaikan juga hanya tanggung jawabnya sendiri. Berbeda dengan guru, tugasnya masih harus diselesaikan di rumah karena tidak cukup waktu di sekolah tanpa ada biaya lembur. Tanggung jawab guru tidak hanya satu tanggung jawab saja, bahkan tanggung jawab pos jabatan saling berkaitan dengan guru lain sehingga membutuhkan kerja sama yang ekstra di luar tugasnya mengajar dan mendidik siswa. Pekerjaan yang ekstra menguras tenaga dan pikiran bukan?  Di samping itu masih harus ekstra ikhlas dan sekaligus menopang beban moral menjadi tauladan siswa-siswanya. Masih mau terima tantangan menjadi guru?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *